Desa Pancasila di Kaki Tambora

31 Maret – 1 April

Hari masih sore ketika kami menepi di Pelabuhan Calabai sepulang dari Satonda. Tujuan berikutnya adalah Desa Pancasila berjarak sekitar 45 menit dari sini. Di tengah jalan Ambu mengisi ulang kulkas dengan telur, kacang panjang, kubis dan tomat.

Untuk sampai di Desa Pancasila kami melewati Kantor Polisi Hutan Pancasila yang kelihatannya baru dibangun lengkap dengan homestay sebagai tempat transit para pendaki. Kontak yang akan kami temui di Desa Pancasila adalah Bang Ipul. Nama beliau memang akrab di kalangan pendaki Tambora. Sebelum menjadi Polisi Hutan seperti sekarang, selama bertahun-tahun Bang Ipul menjadi guide dan trekking organizer di Tambora. Tak lama truk memasuki sebuah perkampungan. Rumah Bang Ipul terletak tepat di depan lapangan desa, sebuah padang rumput seluas lapangan sepakbola yang juga berfungsi sebagai tempat ternak sapi merumput. Sore itu sinar matahari senja membuat lapangan jadi coklat keemasan. Kami lalu parkir di situ. Udara di sini sejuk, artinya kami bisa tidur nyaman tanpa kegerahan malam nanti.

Bang Ipul sedang membersihkan halaman homestaynya ketika kami tiba. Setelah ngobrol dan menyusun rencana perjalanan untuk esok hari, kami pamit kembali ke truk.

Lepas Maghrib listrik mati. Lapangan dan sekitarnya gelap gulita. Ketika sedang menyiapkan bahan makanan untuk santap malam, nampak sesosok tubuh memperhatikan kami dari luar. Kemudian Ambu keluar dan menyapanya. Suaranya kecil, tidak pasti apakah perempuan atau laki-laki. Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya mau juga dia naik ke truk dan nampaklah sosoknya. Namanya Adhar, umurnya 12 tahun dan dalam perjalanan pulang dari surau. Adhar duduk dan berbincang banyak dengan kami mengenai keluarga dan pekerjaan sambilannya sebagai pemetik jagung. Sungguh kisah yang tidak biasa bagi kami, mengharukan dan penuh perjuangan. Tidak lama berdatangan beberapa bapak dan ngobrol dengan kami. Ba’da Isya Hakim dan Adhar pamit untuk mengunjungi rumah Adhar. Pukul 9 Hakim pulang sendiri dan membawa cerita tentang keluarga Adhar.

Keesokan paginya Bang Ipul dan 3 pengendara motor lain sudah siap untuk mengantar kami berjalan-jalan di seputar Desa Pancasila. Tujuan pertama adalah Pintu Belajar yang didirikan oleh Mbak Mega di desa atas Pancasila. Mbak Mega adalah alumni Indonesia Mengajar yang pernah mengajar di salah satu SD di sini tahun 2015 lalu. Selain bruga sederhana yang dipakai untuk belajar setiap sore, terdapat juga beberapa buah rak berisi berbagai macam buku sebagai perpustakaan bagi penduduk setempat. Ada semangat besar terpancar dari tempat sederhana ini. Perpustakaan ini representasi dari sikap pantang menyerah para pendirinya, meretas segala keterbatasan di tengah keterpencilannya. Saya berdoa diam-diam dalam hati semoga apa yang dicita-citakan oleh pendiri Pintu Belajar ini bisa tercapai, amin yra.

Tujuan berikutnya Rumah Besar, yaitu rumah peninggalan Belanda yang dijadikan homestay. Kami bertemu dengan Mbak Mega dan kawan-kawannya yang baru saja turun dari Gunung Tambora.

Di Rumah Besar ini juga terdapat beberapa foto dan artefak berasal dari eskavasi di lereng Tambora. Konon ketika meletus tahun 1815, Gunung Tambora menghancurkan tiga kerajaan di lerengnya yaitu Kerjaan Sanggar, Tambora dan Pekat. Artefak-artefak ini diduga merupakan peninggalan ketiga kerjaan ini.

Tempat ketiga adalah pabrik kopi tua peninggalan Belanda. Tanahnya yang subur dan ketinggian di 1200mdpl menjadikan lereng Tambora tempat yang ideal bagi pertumbuhan kopi. Sebuah film dokumenter merekam bagaimana kopi Tambora sudah dikembangkan menjadi sebuah argo industri di tahun 1900an.

Kendati sudah tua, pabrik pengolahan kopi ini masih dipakai oleh penduduk sekitar untuk mengolah kopi dari kebun mereka, walaupun sebagian mesin-mesinnya sudah diganti.

Ketika Belanda pergi, kebun kopi Tambora kemudian diambil alih oleh pemerintah dan saat ini menjadi bagian dari kawasan Hutan Negara . Dengan status meminjam, oleh penduduk lahan ini dikelola dengan sistem Tumpang Sari, tanaman kopi ditanam di sela pohon-pohon besar dengan syarat pohon-pohon tsb tidak diganggu. Satu orang warga hanya bisa menempati lahan 2 hingga 6 hektar.

Tujuan terakhir adalah Pura Agung, situs kuno peninggalan umat Hindu Majapahit yang konon sudah ada sebelum Tambora meletus. Ketika ditemukan pertama kali ukurannya tidak seluas sekarang. Menurut Bang Ipul tempat ini sering dikunjungi oleh pembesar-pembesar dari berbagai daerah dengan berbagai tujuan. Selain sejarah pura, pohon-pohon besar di halaman pura ini juga menarik perhatian kami. Perlu 5-6 orang dewasa untuk bisa memeluk pohon-pohon ini. Konon dulu lereng Gunung Tambora dipenuhi oleh pepohonan sebesar ini. Sekarang pohon-pohon ini hampir habis akibat deforestasi oleh Konsesi HPH dari tahun 90an hingga sekarang.

Advertisements

Pulau Satonda

31 Maret

Setelah menginap di savana Doro Ncanga dua malam, dengan berat hati kami bergerak ke tujuan berikutnya yaitu Satonda dan Desa Pancasila.

Dari Mas Rio Abah dapat kontak untuk menyewa kapal ke Pulau Satonda, namanya Bang Christ.

Kami janjian dengan Bang Chris di pelabuhan Calabai. Di tepi pantai nampak sebuah speedboat sudah siap membawa kami ke Taman Wisata Alam Pulau Satonda. Setelah Bang Chris membeli solar kami pun berangkat. Walau matahari sudah semakin tinggi, angin laut yang bertiup ketika speedboat melaju kencang membuat kami tidak terlalu kepanasan, tau-tau gosong aja😋.

Pulau Satonda tidak terlalu jauh, hanya setengah jam. Dari pelabuhan yang sama kita bisa juga ke Pulau Moyo.

Keistimewaan Pulau Satonda adalah danau asin di tengah pulaunya. Untuk melihat danau di ketinggian, kami harus trekking di jalanan menanjak yang katanya hanya 500m, tapi berasa 5km buat Ambu 😪. Kami ditemani oleh 5 mitra polisi hutan yang kebetulan akan patroli.

Danau ini terbentuk dari letusan Gunung Satonda ribuan tahun yang lalu. Luas danau ini 335 hektare dan kedalaman 86 meter. Berair asin dengan tingkat kebasaan jauh lebih tinggi daripada air laut biasa. Tidak ada ikan besar yang hidup di sini. Para peneliti menyimpulkan bahwa cekungan Satonda terbentuk dari kawah yang berusia lebih dari sepuluh ribu tahun.

Oh ya di tengah jalan menuju danau kita ketemu gundukan tanah yang rupanya sarang burung Maleo.

Satu sarang bisa dipakai oleh beberapa induk, makanya ukurannya besar sekali. Oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN), Maleo dimasukkan dalam kategori terancam punah.
Walau dinyatakan sebagai endemik di Sulawesi, burung langka ini ternyata bisa ditemui juga Pulau Satonda dan Pulau Moyo.
Burung Maleo mempunyai gaya hidup yang unik. Burung Maleo dewasa berpasangan sehidup semati. Ketika betinanya sudah siap untuk bertelur, bersama pasangannya, dia akan berjalankaki berkilo-kilometer ke tempat bertelur komunal seperti di foto.
Di sana, pasangan Maleo itu menggali lubang yang besar di dalam pasir atau tanah selama berjam-jam. Di dalam lubang tersebut, Burung Maleo betina menelurkan satu butir telur yang sangat besar. Hanya satu! Badan Burung Maleo seukuran ayam, sedangkan telurnya enam kali lipat telur ayam.

Kalau sudah bertelur di dalam lubang, pasangan Maleo menguruk telur tersebut dengan pasir dengan kedalaman yang mencapai satu meter.

Kemudian, mereka pulang lagi ke hutan, sementara telur dibiarkan untuk dipanasi oleh matahari atau panas bumi. Kalau tidak diganggu, sesudah 60-80 hari, telur itu menetas di dalam pasir. Begitu menetas, anak Maleo menggali selama 24-48 jam ke atas untuk mengirup udara segar di alam bebas.

Sesudah beristirahat selama beberapa menit, anak Maleo langsung terbang ke arah hutan untuk hidup secara mandiri tanpa bantuan induknya.

sumber : https://sains.kompas.com/read/2015/10/13/10574701/Menengok.Habitat.Maleo.Burung.Asli.Sulawesi.yang.Terancam.Punah

Sampai di ketinggian kami istirahat sebentar sambil ngobrol-ngobrol dengan Polisi Hutan yang mengantar kami. Salah satu mitra polhut menemukan tanduk rusa timor yang sudah lepas dan menunjukkannya pada kami.

Setelah cukup beristirahat kami turun kembali menuju ke tepi danau. Di tengah jalan Hakim memanjat pohon yang malang melintang di jalur trekking.

Karena diperkirakan terdapat gas belerang di tengahnya, berenang tidak dianjurkan, jadi kami menikmati kesejukan danau dari tepiannya saja. Begitu juga ketika kami kembali ke pantai. Setelah makan siang, bukannya berenang, malah tidur-tiduran dan ngobrol-ngobrol dengan Bapak-bapak Jagawana dan Bang Chris.

Menjelang sore kami balik ke mainland lalu langsung lanjut ke Desa Pancasila.

Sarae Nduha

30 Maret

Pagi yang istimewa karena kami terbangun di tengah padang savana. What a previlege, alhamdulillah.

Mas Mul dan Mas Panji mengajak kami untuk menengok Tebing breksi Sarae Nduha, bukit-bukit hijau yang berbatasan langsung dengan laut. Perbatasannya dengan laut merupakan tebing pasir hasil abrasi yang menyingkap endapan hasil letusan 200 tahun yang lalu.

Baik Sarae Nduha maupun Doro Ncanga keduanya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Tambora. Taman Nasional ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 11 April 2015, bertepatan dengan peringatan 200 tahun letusan besar Gunung Tambora pada 11 April 1815.

Kawasan konservasi Gunung Tambora memiliki potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Vegetasi yang tumbuh disana terdiri dari 106 jenis pohon, 18 jenis epifit, 6 jenis herba, 39 jenis liana, dan 49 jenis perdu.

Kawasan konservasi Gunung Tambora merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa di antaranya dari kelas mamalia (Rusa Timor), reptil (Biawak, Kadal Pohon, Ular Sanca), primata (Kera Abu) dan aves. Terdapat 8 jenis burung yang dilindungi, 1 jenis di antaranya merupakan spesies perioritas terancam punah dan dua jenis burung endemik NTB.

Potensi wisata alam Gunung Tambora menyuguhkan keindahan panorama dari hutan daratan rendah hingga hutan pegunungan. Berbagai flora dan fauna dapat ditemui yang akan menambah pengalaman dan merupakan sensasi tersendiri bagi wisatawan.
sumber : Wikipedia

Dari Sarae Nduha kami lalu ke Doro Bente lalu kembali ke resort dan menghabiskan sisa hari menikmati savana.

Sepat Lesehan Sentong dan Menuju Doro Ncanga

28-29 Maret

Samawa Resort berbaik hati memberi kami late check-out sampai jam 2 siang. Setelah makan siang (dengan berat hati😆) kami tinggalkan resort keren ini.

Sekali lagi kami minta air sama Mas Rio dan ngobrol-ngobrol mengenai tujuan berikutnya. Mas Rio menganjurkan kami untuk langsung jalan ke arah Dompu dan parkir menginap di Sentong instead of menginap di Sumbawa Besar lagi. Di Sentong ada lesehan yang terkenal dengan Sup Ikan Bakarnya atau dikenal dengan nama Sepat di dalam bahasa setempat.

Lesehan Sentong berjarak sekitar 1-1.5 jam dari Sumbawa Besar. Restorannya sederhana dengan beberapa bruga untuk lesehan. Bonusnya yang juara, karena letaknya di teluk, pemadangannya indah dengan gunung Tambora. Mungkin kalau di kota besar, tempat seindah ini sudah dimiliki restoran-restoran mahal.

Dengan meminta izin pada pemilik restoran, kami menginap di sini. Buah-buahan dari Ibu Mas Rio jadi santapan sarapan pagi, ditambah dengan buah serikaya yang kami beli dalam perjalanan dari Pototano. Sumbawa memang penghasil buah srikaya, selain harum, rasanya manis.

Sejak dini hari Abah sudah 3x bolak balik ke toilet, diare. Sepagian Abah tidur, lelah karena dehidrasi. Sambil menunggu Abah pulih, Sabiya dan Hakim mengerjakan tugas mingguan sementara Ambu menulis blog.

Setelah merasakan Sepat kemarin sore, siang ini giliran mencicipi Singgang. Jika sepat adalah ikan bakar yang disantap dengan sup asam, maka Singgang adalah sup ikan yang direbus. Rasanya masam dan segar mirip sepat, hanya ikannya tidak dibakar. Abah sudah mendingan dan ikutan makan siang. Selepas makan kami lalu melanjutkan perjalanan ke Doro Ncanga. Setelah menyusuri Teluk Saleh akhirnya tiba juga di Doro Ncanga petang harinya. Kami ketemu dengan Mas Mul di resort (kantor polisi hutan) Doro Ncanga.

Doro Ncanga merupakan padang savana di kaki Tambora. Letusan Tambora melontarkan piroklastik (material gunung api) dan hampir menutupi seluruh lereng Tambora hingga ke Teluk Saleh. Sisa-sisa material perut bumi yang terlontar ketika letusan terjadi 200 tahun lalu itu, masih nampak tersebar dalam bentuk sebesar kepalan orang dewasa di padang yang sekarang ditumbuhi rumput.

Setelah mendapat ijin, kami parkir di samping resort, menghadap padang rumput terhampar luas yang berbatasan langsung dengan laut.

Angin berhembus semilir ditingkahi suara lonceng-lonceng sapi yang berbunyi secara harmonis seperti gamelan menjadi pengantar tidur kami malam itu.

Menginap di Samawa Resort

27-28 Maret

Walaupun berkendara dengan motorhome yang dilengkapi kasur untuk tidur, kadang kami menginap di hotel juga. Kami menganggarkan setidaknya satu malam dalam seminggu kami meluruskan badan di kasur sungguhan. Kali ini kami memilih Samawa Resort untuk menginap. Sebuah resort cantik di Utara Sumbawa Besar.

Kami dipilihkan sebuah bungalow dua kamar yang menghadap ke laut. Konon ketika gempa melanda Sumbawa tahun lalu, dalam kunjungannya Presiden Jokowi menginap di bungalow yang sama. “So we are p*oping at the same toilet as Presiden Jokowi!?” ujar Sabiya😁.

Selain beranda luas yang menghadap ke laut, bungalow ini dilengkapi dengan ruang keluarga, dua kamar tidur dan dua kamar mandi. Dinding dan lantainya terbuat dari kayu. Kasurnya empuk, spreinya bersih dihiasi taburan bunga segar yang cantik. Kamar mandinya bersih dan luas.

Resort ini dilengkapi kolam renang yang menghadap ke laut dan dermaga untuk speed boat ke Pulau Moyo.

Menginap di hotel sebagus ini, dengan suasana yang begitu menyenangkan merupakan hiburan tersendiri dan sarana refreshing setelah berhari-hari melakukan perjalanan dengan truk.

Pulau Moyo

26-27 April

Sepulang dari Pototano, kami langsung ke Sumbawa Besar ketemu Mas Rio lagi. Dengan berkonvoi, malam itu kami menembus kegelapan menuju Desa Labu Sao untuk bermalam karena keesokan harinya kami akan ke Pulau Moyo.

Telur rebus dan sereal jadi pengisi perut kami pagi itu. Dengan kapal nelayan kami berlayar selama 1.5 jam menuju Pulau Moyo.

Persinggahan pertama adalah gusung pasir imut-imut tidak jauh dari Labuan Haji, Takat Sagele namanya. Konon Takat Sagele terbentuk dari kumpulan karang yang sudah hancur karena pengeboman. Serpihan karang ini terbawa arus sedemikian rupa berkumpul dan membentuk gundukan Takat Sagele.

Air di sekitar gusung pasir ini jernih dan biru. Di perairan sekitarnya banyak ikan dan binatang laut lainnya. Mas Rio sempat mengambil bintang laut dan memberi kesempatan pada kami untuk menyentuhnya. Teksturnya permukaannya kasar bersisik. Tentakelnya kaku dan keras seperti batang kayu. Setelah puas snorkeling dan berenang, perjalanan dilanjutkan ke Labuan Haji, dermaga Pulau Moyo.

Begitu tiba di Labuan Haji, tukang ojek sudah stand by siap mengantar ke Air Terjun Mata Jitu dengan biaya Rp 100,000/orang. Selama dua puluh menit berikutnya kami melalui jalanan semen yang rusak parah dengan batuan karang mencuat di sana sini. Walhasil perjalanan ke air terjun seperti sport jantung.

Turun dari motor, setelah treking sekitar 5 menit, sampailah kita di air terjun yang kesohor sampai ke mancanegara itu. Seperti Ai Kalela di Sumbawa Barat, air terjun Mata Jitu juga terbentuk oleh batuan kapur. Di sekitar air terjun ada stalaktit dan stalakmit. Di bawahnya terdapat 7 kolam bertingkat alami. Airnya sejuk dan menyegarkan. Di puncak air terjun terdapat kolam alami sumber air berasal.



Kami mandi seperti tidak ada hari esok. Rasanya tidak mau pulang. Airnya begitu sejuk dan menyegarkan. Bukan hanya badan yang terbasuh, jiwa dan pikiran pun ikut segar.

Gili Belang, Pulau Paserang dan Gili Kenawa

26 Maret

Sebelum nyebrang dari Lombok tempo hari, salah satu tempat yang wanti-wanti untuk dikunjungi di Sumbawa adalah Pulau Kenawa. Selain karena letaknya di ujung Barat Sumbawa, dekat dengan pelabuhan penyeberangan dari Lombok, gambar-gambarnya di internet cantik sekali. Tapi dikarenakan hari hujan ketika kami tiba di Sumbawa, jadi Pulau Kenawa sempat kami coret dari agenda. Nah kebetulan kami lewat Pototano lagi dan hari cerah, maka Pulau Kenawa dimasukkan lagi ke agenda, ditambah dengan dua pulau di dekatnya yaitu Gili Belang dan Pulau Paserang.

Jam 8 pagi kami berjalan kaki dari parkiran truk ke dermaga. Hari sudah mulai panas. Tujuan pertama adalah Gili Belang atau Pulau Kambing. Disebut begitu karena dulunya banyak kambing bebas berkeliaran di sini. Kapal menepi, perjalanan dilanjutkan dengan trekking. Matahari mulai tinggi dan hari mulai terik. Terseok-seok kami memanjat bukit dan akhirnya sampai juga kami di ketinggian. Pemandangan lepas ke laut biru dan pulau-pulau di sekitarnya seketika menghapus rasa lelah.

Jalan kembali turun dari bukit tidak kalah menantangnya😁. Dengan sendal jepit yang sudah licin oleh embun bercampur pasir, ditambah jalanan curam menurun yang berpasir, sekuat tenaga menahan beban tubuh agar tidak jatuh dan meluncur menuruni bukit yang curam. Akhirnya walau lambat, sampai juga kami di kaki bukit dan kembali ke kapal.

Pulau berikutnya adalah Pulau Paserang. Pulau cantik berpasir putih. Begitu menepi di dermaga, mata Hakim yang walau minus 3.5 langsung menangkap makhluk mungil transparan terapung memenuhi permukaan air : bayi ubur-ubur. Urunglah kami berenang di sini. Duduk-duduk saja sambil menonton abah menerbangkan dronenya.

Tiba di Pulau Kenawa sudah hampir pukul 11, hari semakin terik rik. Abah dan Hakim sempat mencoba berenang kemudian naik kembali karena ternyata di sini juga banyak ubur-ubur. Paha abah dipenuhi bintik merah tanda sengatan ubur-ubur. Setelah makan siang, Jaka, pemandu dan pengemudi kapal kami pamit untuk kembali ke mainland. Kami akan dijemput oleh ayahnya. Abah lalu menerbangkan drone dan melihat kecantikan Kenawa dari ketinggian. Video singkatnya bisa dilihat di sini.

Walau panas terik, angin pantai sepoi-sepoi berhembus sejuk, kami pun tertidur😁. Ketika terbangun, Abah langsung menelpon Jaka untuk menjemput kami. Sebelum meninggalkan Kenawa kami sempat berfoto di bukit Teletubbies yang nge-hits banget itu buat kenang-kenangan.

Sumbawa Barat Tanjung Maluk, Pantai Tropical dan Ai Kalela

24-25 Maret

Adzan Isya tengah berkumandang ketika kami memasuki jalan raya Maluk. Dengan harapan menemukan tempat parkir yang nyaman dilengkapi toilet umum, kami mencari pantai. Kami menjumpai pantai gelap gulita yang diapit kebun kosong di kiri dan kanannya. Akhirnya diputuskan untuk minta ijin untuk parkir dan menginap di pekarangan mesjid.

Keesokan paginya setelah sholat Subuh, kami langsung bergerak ke pantai lagi.

Di pagi hari keadaan pantai Maluk jauh lebih bersahabat ketimbang tadi malam. Kami sarapan sekaligus makan siang di sini. Setelah puas bermain di Pantai Maluk, kami lalu mencari pantai lain, pantai Tropical. Katanya pantainya lebih indah.

Oleh Google Map lagi-lagi kami diarahkan ke jalanan kecil yang meragukan. Meragukan apakah bisa dilalui truk sebesar ini atau tidak. Akhirnya setelah konsultasi dengan staf di SPBU, kami lalui jalan lain. Betul saja, jalannya lebaar dan mulus. Tentu saja, karena melewati bandara satu-satunya di Sumbawa Barat. Bandara yang (dulunya) biasa dipergunakan oleh pegawai pertambangan. Infrastruktur di area ini terbilang sangat baik karena memang merupakan penunjang industri penambangan tembaga dan emas oleh PT Newmont Nusa Tenggara mulai tahun 2000. Walau kondisi bandara sudah terbengkalai dan tidak terpakai, kondisi jalan dan infrastruktur lainnya masih sangat baik. Bahkan bangunan mesjid dan Puskesmasnya kelihatan lebih mentereng dibanding daerah lain di Pulau Sumbawa.

Tiba di tepi Pantai Tropical, ‘jejak’ kemakmuran pertambangan juga nampak. Di sepanjang garis pantai telah dibangun sebuab hotel yang cukup representatif untuk para ekspat pertambangan sekedar minum atau melepas lelah.

Pantainya memang lebih cantik dibanding Pantai Maluk. Pasirnya landai dan putih halus. Airnya biru jernih. Abah sempat menerbangkan drone di sini dan menikmati pemandangan pantai dari ketinggian.

Dalam perjalanan kembali ke Sumbawa, kami singgah di Ai Kalela. Sebuah air terjun dengan air yang berkadar kapur tinggi sehingga membetuk formasi menarik di air terjunnya.

Kami yang belum mandi sedari pagi tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan mandi sekaligus bersenang-senang di bawah air terjun .

Sementara kami mandi, Hakim dan Mas Mukhlis, guide kami, naik ke tempat tertinggi Ai Kalela dan sempat melihat sarang ular di situ, hiii… ngerii!

Walaupun bening dan menyegarkan, air dari air terjun ini tidak dipakai oleh penduduk sekitar untuk konsumsi sehari-hari karena kadar kapurnya yang tinggi.

Setelah segar mandi menghirup oksigen murni di air terjun, kami kembali naik ojek menuju parkiran truk. Tujuan kami sore ini adalah Pototano karena keesokan harinya kami sudah janjian dengan Mas Jaka untuk ke… Kenawa!

Karapan Kerbau

24 Maret

Pagi itu Mas Rio sudah datang nyamperin kami untuk nonton karapan kerbau tidak jauh dari situ.

Karapan kerbau ini event rutin dua bulanan sekali. Pesertanya dari segala penjuru Sumbawa. Lomba dikategorikan dalam beberapa grup sesuai ukuran kerbaunya. Walau panas terik, baik peserta maupun penonton antusias hadir di sini. Suaasananya meriah gegap gempita.

Ketika kami sampai di arena, kerbau tengah di arak berkeliling lapangan tanding untuk ‘orientasi’, mengenal lapangan sebelum bertanding. Setelah semua kerbau selesai orientasi, lomba pun dimulai.

Setiap pasang kerbau akan dipasangi semacam pengikat yang bagian tengahnya terhubung ke bagian bawah serupa ‘garuk’ sebagai pemacul tanah sekaligus sebagai pijakan jokinya. Sesuai sejarahnya, atraksi ini berasal dari budaya menggarap sawah. Masing-masing pasangan kerbau akan dikemudikan oleh seorang pria dewasa dan dipacu sedemikian rupa untuk melewati sebuah plang sebagai tanda finishnya. Siapa yang tercepat waktu tempuhnya, dialah pemenangnya.

Nama-nama pasangan kerbau pun dipanggil satu-persatu untuk memasuki arena melalui pengeras suara. Macam-macam namanya, Rocket, Bintang Kecil, Avatar, Anak Manis, Bintang Kejora, Angin Paris bahkan ada yang dinamai nama caleg segala 😁. Pasangan kerbau bernama Rocket berhasil menempuh waktu tercepat yaitu 10 detik.

Ketika hari semakin terik, perut pun sudah keroncongan, maka kami keluar meninggalkan arena untuk mencari makan siang. Setelah makan kami singgah di rumah Mas Rio, minta air untuk mengisi tangki truk buat persediaan perjalanan ke Sumbawa Barat.

Sumbawa Besar dan (percobaan) ke Moyo

21-22-23 Maret

Di tahun 2004 dulu, salah satu tujuan utama kami nyebrang dari Lombok ke Sumbawa adalah ke Pulau Moyo. Keekslusifannya bikin kami penasaran. Konon para pesohor termasuk Lady Di dan Mick Jagger masuk ke pulau ini menggunakan pesawat milik Amanwana langsung dari Bali. Amanwana adalah resort mewah dan ekslusif di Pulau Moyo. Sementara untuk jalan laut selain kapal cepat milik Amanwana, ada satu kapal umum yang beroperasi bergantung cuaca. Namun ketika kami tanya pada staf hotel tempat kami menginap mengenai jadwal kapal, tidak ada satupun informasi yang jelas. Ada yang bilang kapal hanya beroperasi di hari tertentu dan jam tertentu saja. Ada juga yang bilang, kapal ini hanya untuk penduduk saja, turis lokal seperti kami tidak diperkenankan masuk pulau. Karena tidak ada kejelasan, akhirnya kami nyerah dan kembali ke Lombok tanpa menginjakkan kaki di pulau itu.

Sekarang 15 tahun kemudian, keadaan (mustinya) sudah berubah. Dari hasil googling dan tanya kiri kanan katanya ada kapal publik yang beroperasi dan akan berangkat dari Sumbawa tengah hari. Untuk akomodasi, masih menurut sumber yang sama, mudah didapat.

Maka keesokan paginya setelah sarapan kami pun bersiap. Perlengkapan snorkeling dan bekal menginap selama dua hari sudah siap dibawa. Untuk ke pelabuhan kami pesan taxi dan mobil dititipkan di hotel.

Oleh taxi kami dibawa ke tiga pelabuhan. Pelabuhan pertama dan kedua sepi, tidak ada tanda-tanda kapal yang merapat. Kami di drop di Pelabuhan Badas, pelabuhan ke-3. Kapal yang dimaksud tidak juga nampak, belakangan diketahui kalau kapal tidak berlayar karena alasan cuaca yang sedang tidak bersahabat.

Apa boleh buat, kami pun menelpon taxi yang sama untuk balik lagi ke hotel. Diputuskan untuk menunggu cuaca mereda dan mengeksplor Sumbawa Besar dan sekitarnya. Kami masuk ke area Pantai Baru dan parkir di situ. Dari tepi pantai sini baru kelihatan kenapa kapal nggak berlayar; angin bertiup kencang dan ombak bergelora ganas.

Menjelang Maghrib kami kedatangan teman baru, Mas Rio. Beliau kami kenal melalui Instagram. Kami ngobrol-ngobrol dan beliau menyarankan untuk menunda keberangkatan ke Pulau Moyo. Sambil menunggu, beliau usulkan kami untuk mengunjungi Pantai Maluk dan Air Terjun Ai Kalela di Sumbawa Barat serta Pulau Kenawa di Pototano.

Keesokan paginya seharusnya kami eksplor Kota Sumbawa, tapi karena suasana sejuk oleh angin yang bertiup kencang, akhirnya kami nggak kemana-mana. Seperti biasa Hakim dan Sabiya menyelesaikan tugas-tugas akademik mingguannya. Sementara Ambu membaca buku dan blogging.

Kami menginap sekali lagi di Pantai Baru malam itu.