Kembali ke Kota Kupang

28 April

Setelah meninggalkan Kota Dilli kemarin, kami kembali melewati Pos Perbatasan Moto Ain dan langsung menuju Atambua. Sampai di Atambua, nasi Padang jadi pilihan makan siang. Yang ntah kenapa siang itu terasa nikmat sekali, seolah-olah sudah berbulan-bulan kami meninggalkan tanah air. Padahal baru 3 hari yang lalu😅.

Perjalanan dilanjutkan hingga petang tiba. Kami menginap di sebuah mesjid di area Kefamenanu. Ada serombongan jamaah tabligh yang sedang menginap di situ.

Pagi harinya lepas adzan dan sholat Subuh kami meneruskan perjalanan. Lagi-lagi kami singgah di Rumah Makan Padang untuk sarapan pagi itu😄.

Kami sampai di Kota Kupang menjelang Ashar. Sebagai hiburan setelah berjalan dan menginap non stop di motorhome selama lebih dari 10 hari, kami putuskan menginap di hotel malam itu. Hotel A*aris kesukaan Sabiya.

Tidak jauh dari hotel, ada sederetan ruko terdiri dari restoran ayam waralaba, rumah makan Padang dan spa. Wah kebetulan. Hakim dan Sabiya memilih makan ayam buatan Kolonel sementara Ambu dan Abah, sudah bisa ditebak, makan nasi padang lagii😄. Setelah makan, Hakim dan Sabiya pulang ke hotel sementara Ambu dan Abah pijetan di spa. Ah enaknya.

Malam hari kami kedatangan tamu, Om Deni Secaatmaja, kawan Abah waktu di kantor Jakarta dulu. Kami ngbrol macam-macam tentang perjalanan dan liputan Om Deni di Kupang.

Kembali ke Tanah Air

27 April

Pagi ini kami bersiap-siap hendak kembali ke Kupang. Ketika Ambu mau masak sarapan, kami kedatangan Ibu Flo dan Pak Max yang membawa pisang goreng dan seabreg oleh-oleh. Pisang goren dan obrolan seru jadi sarapan kami pagi itu. Ngomong-ngomong soal tamu kita pagi itu, Pak Max dan Bu Flo sama-sama keturunan Ambon tetapi berKTP Jogja. Keduanya sudah lama tinggal di Dilli. Kami bercerita seru tentang suka duka menjadi WNI di Timor Leste dan dinamika hubungan TL dan Indonesia.

Kami kembali menyusuri jalan berdebu yang konon sudah berbulan-bulan tak kunjung usai dirampungkan oleh kontraktor asal Tiongkok. Terimakasih Timor Leste, terimakasih untuk pelajarannya terutama mengenai rasa syukur bahwa kami masih menjadi bagian dari NKRI.

Jalan-jalan di Kota Dilli

26 April

Pagi ini cerah sekali. Semalaman kami parkir dan istirahat dengan nyenyak di halaman KBRI Dilli. Sinar matahari menembus celah pepohonan yang rapih berjajar di area terelit di Kota Dilli ini. Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia bertetangga dengan kediaman Presiden dan Perdana Mentri Timor Leste. Bangunan-bangunan megah, diantaranya bergaya khas arsitektur Portugal tertata apik dengan jalan-jalannya yang lebar dan bersih. Bagian sebelah barat kompleks dibatasi Avenida Portugal, sebuah ruas jalan dilengkapi dengan pedestrian yang lebar dan bersisian dengan Laut Sabu. Tampak beberapa warga Dilli melakukan olahraga pagi sambil menghirup udara yang masih bersih.Pagi itu Pak Dubes TL dan beberap atase sempat singga, ngobrol-ngobrol dengan kami dan tentu saja lihat-lihat si moti.Hari ini kami akan ke salah satu museum di Kota Dilli yaitu Timorese Resistance Archive and Museum atau Museum Perlawanan Rakyat Timor. Museum tentang perlawanan Rakyat Tmor Leste terhadap Indonesia.Museum ini bertempat di Gedung Pengadilan Timor Leste yang sempat dbakar pada kerusuhan tahun 1999. Kemudian dibangun kembali dan dibuka pada tahun 2005 dengan bantuan dari luar negri.Dalam museum ini dipamerkan kisah dan artefak-artefak bukti perlawanan rakyat Timor Leste selama di bawah kekuasaan Indonesia. Disajikan juga film dokumenter Peristiwa Liquiça, menampilkan adegan-adegan nyata tanpa sensor sama sekali, agak horor😰. Tentu saja fakta-fakta yang disajikan adalah fakta versi Timor Leste yang belum tentu sama dengan versi Indonesia.Setelah berkeliling di lantai 1, kami naik ke lantai 2 yang ternyata relatif kosong. Di ruangan ini kami bertemu dengan beberapa orang Bapak-bapak yang sedang santai mengobrol. Kami ditawari untuk duduk bersama dan kami pun lalu diajak ngobrol.Rupanya beliau-beliau ini adalah mantan aktivis mahasiswa anti integrasi. Seorang dari mereka, yang bernama Pak Timor Berre kalau tidak salah, mengaku sebagai pelaku utama di Peristiwa Dresden. Sebuah peristiwa yang sempat menjadi headline di mana Pak Harto ‘dikeplak’ kepalanya dengan gulungan koran hingga kopiahnya terjatuh.Kami berbincang santai layaknya kawan, tidak ada permusuhan atau kata-kata menyakitkan yang keluar. Kami membahas kondisi Indonesia dan Timor Leste hari ini. Bahwa apapun kondisi rakyat Timor Leste hari ini, menjadi merdeka adalah hal terpenting yang tidak rela mereka tukar dengan apapun sekalipun kemakmuran.Selesai dari museum, perut sudah lapar. Kami mencari restoran dan nampak Restoran Burger Waralaba yang sudah akrab di Tanah Air. Kita putuskan untuk parkir dan membeli makanan di situ. Apa daya, credit card Ambu yang tidak bernomor pin tidak bisa digunakan. Sementara persediaan uang dolar sudah menipis. Seorang pengunjung yang iba melihat kami gagal makan menyarankan untuk mengambil uang di Bank Mandiri tidak jauh dari restoran. Kami sudah kadung tidak semangat. Kami putuskan mencari makanan di tempat lain.Pilihan jatuh pada Jalan Alor. Tenpat kami sarapan pagi tadi. Kami pergi ke restoran yang sama, lalu memesan 4 porsi ayam penyet. Harga per porsi 2.5USD, sekitar 45ribu rupiah, hampir 2x lipat harga makanan yang sama di Kota Kupang.Selesai makan, kami menunaikan sholat Dzuhur di Mesjid An Nur tempat Moti diparkir.Selesai sholat kami bertemu dengan takmir mesjid yang ternyata dulu pernah kuliah di Bandung. Beliau bahkan mengucap dua syahadatnya dengan bimbingan Ustadz Miftah Farid. Kami ngobrol macam-macam temasuk soal regenerasi Muslim di Dilli. Dewan Mesjid mengirim beberapa putra-putri muslim Timor Leste untuk belajar di pesantren-pesantren di Indonesia. Sayang, santri-santri ini seringkali mengalami kesulitan untuk mendapatkan Visa Pelajar. Kami berjanji untuk membicarakan issue ini pada instansi terkait.Populasi muslim Timor Leste berjumlah sekitar 45,000 atau 1,6% dari total jumlah penduduk. Mari Alkatiri, perdana menteri pertama Timor Leste adalah seorang muslim. Selain Mesjid An Nur di Campo (Kampung) Alor-Dili, ada dua mesjid lagi di Timor Leste masing-masing di Likisa dan Baucau.Konon Islam di sebarkan ke Timor Leste oleh muslim dari Maluku dan Ternate pada abad 15. Ustadz takmir cerita bahwa beliau pernah menemukan mushaf Al Quran di pelosok-pelosok Timor Leste yang masih menganut animisme. Mushaf ini dikeramatkan, disembah dan disimpan di tempat ibadahnya. Lembaran Al Quran dengan tulisan tangan ini umumnya terbuat dari kulit kayu dan berusia lebih dari lima ratus tahun. Mungkin dari para penyebar Islam itulah mushaf-mushaf tadi berasal.Malam harinya Ibu Flo datang lagi, kali ini suaminya, Pak Max menyusul. Obrolan dan suasana di Moti jadi meriah sekali malam itu.

Menyebrang ke Timor Lorosa’e

25 April

Excitement membangunkan kami pagi ini; dengan truk kami akan melancong ke luar negri!😀

Ketika kantor dibuka pukul 8, kamilah pelintas pertama pagi itu. Abah ke bagian bea cukai untuk mengurus penyebrangan truk sementara kami menunggu di loket imigrasi. Setelah Abah selesai kami berempat mengantri di loket imigrasi untuk cek dan cap paspor kemudian naik truk kembali keluar kompleks menuju pos penjaga terluar dengan negara tetangga.

Sekitar lima meter dari pos inilah, sebuah garis kuning membentang perlambang garis batas dua negara. Kami berhenti dan turun sebentar untuk mengabadikan momen bersejarah ini.

Begitu truk melewati garis ini, resmi sudah kami keluar dari wilayah NKRI. Bye for now, Indonesia.

Ngomong-ngomong sebetulnya titik penyebrangan Indonesia- Timor Leste itu banyak sekali, hampir sepanjang garis perbatasan dan kebanyakannya tidak legal. Di titik-titik inilah ilegal enter, penyelundupan sembako, miras bahkan narkoba sering terjadi. Saat ini tentara kita ditempatkan di titik-titik ini untuk berjaga. Sekalinya piket nggak tanggung-tanggung lho, dalam satu periode penugasan mereka harus menetap di perbatasan sampai 9 bulan! Lamanyaaa….

Kantor Lintas Batas Timor Leste berjarak tidak sampai sekilo dari Pos Lintas Batas RI. Bangunannya lebih tua dan sederhana. Kompleksnya pun jauh lebih kecil dari Mota Ain. Di sini truk kami diperiksa, lalu kami masuk ke loket imigrasi. Mengisi kartu kedatangan lalu membayar biaya Visa sebesar 30$ USD per orang. Petugas Visa menanyakan maksud dan tujuan kunjungan kami. Ketika tahu kami hanya pelancong dan tidak punya saudara di Timor, beliau lalu memberikan nomor handphonenya jika sewaktu-waktu diperlukan. Terimakasih Pak.

Oh ya, to our surprise, bahasa Indonesia masih digunakan di sini. Kami tidak ada kesulitan komunikasi sama sekali karena semua petugas di Pos Perbatasan ini lancar dan fasih berbahasa Indonesia.

Selesai dengan urusan Imigrasi, perjalanan pun dilanjutkan. Sekitar lima km pertama jalanan mulus beraspal. Tiba di Tanjung Batu, jalanan aspal mulai diganti oleh jalanan kerikil berpasir.

Bukan sekilo dua kilo tapi teruuus hingga 110 km kemudian. Di beberapa ruas jalan, lubang menganga menghadang di tengah jalan, tanda jembatan yang tak kunjung usai dibangun.

Langit biru dan laut toska khas Nusa Tenggara Timur mengikuti kami terus sepanjang perjalanan menuju ke Dilli.

Di tengah perjalanan, hp Ambu yang sudah dalam posisi roaming tiba-tiba berbunyi. Berita duka dari Tanjung Pinang: Tante Eda, adik Bundanya Ambu meninggal, allohummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa. Sedih sekali, tapi kami begitu jauh, sampai Dilli saja belum. Perjalanan dilanjutkan sambil memanjatkan doa buat Tante Eda.

Niat utk masak dan makan siang di tepian pantai urung karena debu dari jalanan tak beraspal terlalu tebal. Petang sekitar pukul 3 kami tiba di tepian kota Dilli. Sebuah rombongan VIP memaksa semua mobil untuk menepi, rupanya Mendikbud RI beserta rombongan yang baru saja menghadiri Education Expo di Dilli akan melintas menuju Pos Perbatasan Moto Ain di Atambua.

Setengah jam kemudian kami tiba di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia Dilli. Bangunan megah dua tingkat berpagar tembok tinggi dengan pos security di kiri dan kanannya.

Kami menunggu beberapa saat lalu memutuskan untuk masak dan makan siang dulu sebelum masuk KBRI. Selesai makan, Abah lalu menghubungi Pak Agus salah satu Konsuler KBRI dan kami diterima oleh beliau di kantornya. Kami ngobrol-ngobrol mengenai banyak hal tentang Timor-Leste dan pernak-pernik hubungannya dengan Indonesia. Malam tiba dan kami diizinkan untuk parkir di halaman KBRI. Ketika kami hendak bersiap tidur, kami kedatangan tamu, Ibu Flo Staf KBRI di Dilli yang mengikuti perjalanan kami melalui Instagram. Malam ditutup dengan ngobrol seru dengan Ibu Flo. Beliau punya banyak cerita tentang Timor Leste, maklum beliau sudah lama sekali tinggal di Dilli.

Pos Lintas Batas Mota Ain

25 April

Belum waktu makan siang ketika kami tiba di Atambua. Tapi perut yang tadi pagi hanya diisi buah, sudah minta diisi lagi. Kami menepi di sebuah warung dan makan siang lebih awal. Ketika sedang duduk menunggu makanan, kami didatangi netizen, Pak Heri yang mengikuti perjalanan kami di YouTube. Beliau lalu mengantar kami untuk mengurus dokumen melintas ke Timor Leste.

Surat Permohonan Membawa Kendaraan (SPMK) diurus di Kantor Bea Cukai dengan membawa STNK, Paspor, SIM dan cek fisik kendaraan oleh petugas Bea Cukai. Proses memakan biaya waktu sekitar 10-15 menit saja.

Untuk penduduk di perbatasan yang sering bolak balik dua negara, pemerintah memberlakukan Kartu Lintas Batas. Kartu ini seperti pengganti paspor khusus bagi warga perbatasan saja. Timor Leste pun menerapkan kebijakan yang sama bagi warganya yang tinggal di perbatasan.

Ketika SPMK sudah ditangan, kami berpisah dengan Pak Heri dan mengantar beliau kembali ke tokonya. Perjalanan lali dilanjutkan ke Mota ain, Pos Lintas Batas Timor Leste berjarak sekitar setengah jam dari Atambua. Pos sudah tutup ketika kami tiba, sudah pukul 4 sore.

Btw, Pos Lintas Batas Terpadu ini keren banget. Fasilitas dan bangunan fisiknya baru selesai dipugar 2 tahun yang lalu. Proses pembangunannya juga kilat, kompleks ini diselesaikan hanya dalam waktu satu tahun atas perintah Presiden Jokowi.

Disebut Pos Lintas Batas Terpadu karena semua departemen sudah dalam satu atap, dari mulai Imigrasi, Perdagangan, Militer, Bea Cukai dll.

Ruang imigrasi dan fasilitas umum lainnya (seperti mushola), adem berAC.

Kami sempat ngobrol-ngobrol dengan satpam dan beberapa orang yang bertugas malam di Pos ini. Beberapa diantara mereka adalah eks Timor Timur. Keputusan berintegrasi dengan Indonesia membawa konsekuensi yang tidak ringan, berintegrasi artinya meninggalkan tanah kelahiran, meninggalkan sanak keluarga, meninggalkan rumah tanah dan mulai lagi dari awal. Di perbatasan ini, kami membaca kembali Tragedi Santa Cruz, Referendum Kemerdekaan Timor dan kejatuhan Orde Baru. Bahwa represi dan kekerasan tidak pernah membawa manusia kemana-mana. Kerakusan dan kekuasaan yang membabi buta hanya mendatangkan kemunduran dan derita.

Kupang dan Pengurusan Penyebrangan ke Timor Leste

23-24 April

Selamat pagi Kupang😍🌅.

Setelah bersih-bersih, tanpa sarapan terlebih dahulu kami meninggalkan Pelabuhan Bolok dan bergerak menuju Kota Kupang. Sasaran pertama tentu saja sarapan😋. Tak lama setelah ambu singgah membeli sayur dan buah-buahan, terdengar seruan adek di kabin penumpang,”Bubur ayaaam”. Ternyata kami baru saja melewati gerobak bubur ayam yang sedang berjualan di tepi jalan. Tanpa perlu bertanya, kami semua sepakat untuk berhenti dan sarapan di situ. Yang jualan buburnya orang Indramayu, jadi mirip-mirip lah sama bubur ayam Cianjur kegemaran kami Ya sejak meninggalkan rumah 5 bulan yang lalu, kami hampir nggak pernah makan bubur lagi. Ada sekali waktu di rumah Ida Pedanda, kami disuguhi bubur Bali, toppingnya urap sayur. Dan sekali waktu dimasakin Pakde Bebe waktu kemping di tepi Danau Tamblingan Bali.

Selesai sarapan kami meluncur ke Kota Kupang untuk mulai melengkapi persyaratan dokumen untuk keperluan melintas ke Timor Leste. Memfotocopy pasport/SIM/KTP/STNK/BPKB/KIR, menukar dolar dll. Seluruh kelengkapan dokumen ini akan digunakan untuk mengurus izin lintas negara bersama kendaraan di Atambua nanti. Terakhir, kami ke Consulado (konsulat) Timor Leste di Kupang karena menurut informasi dari KBRI Dilli, kami harus mengurus surat pengantar untuk masuk ke Timor Leste nanti. Tiba di security, ternyata pemegang paspor Indonesia tidak memerlukan surat apapun, cukup paspor, visa (on arrival) dan dokumen kendaraan.

Matahari sudah tepat di atas kepala ketika truk mengarah ke Utara Pulau Timor, menuju perbatasan. Perjalanan ke perbatasan memakan waktu sekitar 7-8 jam. Maka kami harus berhenti di Soe atau Kefamenanu untuk bermalam.

Di pinggiran kabupaten Kupang, pedagang garam tradisional berderet di tepi jalan. Garam bubuk tak beryodium ini ditempatkan dalam wadah memanjang terbuat dari daun nipah. Selain itu dijual juga garam padat seperti stalaktit untuk campuran makanan ternak.

Memasuki Soe udara semakin sejuk. Pedagang di tepi jalan memajang aneka buah-buahan hasil tanah Soe. Primadonanya alpukat, ukurannya 2-3x alpukat biasa.

Maksud hati menginap di Kefamenanu urung karena sejuknya udara di Soe. Akhirnya kami putuskan menginap di Niki-niki. Kota kecil yang juga sejuk setelah Soe.

Area tempat kami menginap tidak terlalu luas. Pekarangan sebuah toko yang menjual keperluan sehari-hari . Walau begitu ternyata tempat ini jadi tempat singgah truk-truk yang melintas, sepinya tidak terasa karena hingga tengah malam banyak truk bergantian menepi.

Buah-buahan hasil bumi Timor jadi santapan pembuka hari ini menuju Atambua.

Bye Bye Larantuka, Hello Kupang

21-22-23 April

Berbekal jadwal kapal ASDP dan seputaran Larantuka (Adonara, Lembata dan Alor), petang ini kami diskusi keluarga untuk menentukan tujuan selanjutnya

Anak-anak pingin segera nyebrang ke Kupang, sementara Abah dan Ambu masih ingin ekplorasi di seputaran Larantuka. Di tengah diskusi Abah lalu telpon ke petugas pelabuhan memastikan jadwal kapal. Informasinya kapal ke Adonara dan sekitarnya cancel sementara kapal ASDP ke Kupang masih on. Palu diketok, Unlocking Indonesia’s Treasure menuju Kupang (keputusan yang belakangan disesali Ambu).

Malam ini kami pamit pada Bapak Pastor Keuskupan. Kami akan meninggalkan tempat kami parkir selama 4 hari ini dan menginap di pelabuhan untuk mengejar kapal ferry ASDP yang akan berangkat besok pagi.

Kenapa pakai menginap segala? Karena perayaan paskah baru saja usai sehingga akan ada arus balik dari Larantuka ke Kupang. Kapal akan penuh oleh peziarah. Jika kami lambat maka ada kemungkinan kami masih harus stay di Larantuka dan baru bisa menyebrang ke Kupang hari Jumat atau Minggu depan nanti.

Jam 9 malam itu kami masuk pelabuhan dan parkir di sana. Jam 6 pagi Abah diberitahu bahwa ada kemungkinan kendaraan besar tidak bisa berangkat karena prioritas hari itu adalah untuk penumpang tanpa kendaraan. Wah kesempatan nih, masih bisa ke Adonara dan sekitarnya pikir Ambu. Tidak lama, Abah datang kembali dengan kabar yang menusuk impian Ambu layaknya jarum nusuk balon tussss😪, impian ke Adonara dan sekitarnya kempes seketika, kami bisa berangkat pagi ini juga.

Menjelang jam berangkat, loket penuh sesak oleh calon penumpang. Untungnya tiket sudah kami beli melalui sedikit perdebatan dengan petugas loket. Truk kami yang setiap kali menyebrang lintas pulau selalu dimasukkan dalam kategori truk, oleh petugas di sini dimasukkan dalam kategori bus. Padahal ongkos bus dan truk selisihnya lebih dari satu juta. Akhirnya kami harus membongkar bukti berupa receipt dari penyebrangan-penyebrangan sebelumnya. Untung ada satu yang ditempelkan di scrapbook Sabiya, tiket penyebrangan ke Sabang. Setelah menunjukkan bukti, kami dapat harga tiket untuk truk. Di sini juga kami dicharge tiket untuk penumpang, praktek yang tidak ada di penyeberangan pulau lain.

Sekitar jam 9 pagi, kapal akhirnya berangkat. Dan dimulailah salah satu pengalaman nyebrang laut paling ‘brutal’😁 dan tidak akan terlupakan. Selain beberapa truk dan kendaraan kecil, bagian dasar kapal ro-ro sesak oleh puluhan motor, pengemudinya dan tentu saja penumpang tanpa kendaraan. Saking penuhnya, penumpang memenuhi tangga, lorong-lorong kapal dan area-area yang tidak semestinya ditempati penumpang. Sebetulnya keadaannya cukup memprihatinkan😪. Cuman karena sebagian besar para penumpang ini adalah peziarah Samana Santa yang (mungkin) baru dicharge secara spiritual, yang ada wajah-wajah happy aja. Seenggaknya yang nampak oleh saya. Tidak ada keluhan atau wajah merengut meratapi keadaan.

Karena penuh begitu, mau tidak mau kami harus tinggal di dalam mobil (bye bye angin laut). Walaupun masih bersyukur karena bisa tinggal di dalam mobil, tapi keadaan dalam mobil sungguh puanasss puolll Kakak!😣😓😨

Kami segan menyalakan AC karena angin panas dari unit outdoor dan asap dari gensetnya akan mengenai para penumpang yang duduk mengitari kendaraan kami. Jadi seperti saunalah kami di dalam mobil. Ditambah ombak dan angin cukup kencang, membuat kapal mengalun dan membuat mabuk. Membaca, nyemil, ngobrol, (berusaha) tidur adalah aktivitas kami selama 15 jam berikutnya. Malam hari yang kami kira akan lebih sejuk, ternyata sama saja. Hingga akhirnya terdengar penumpang di luar berkemas. Lamat-lamat di kegelapan nampak kerlap kerlip lampu di Pelabuan Bolok Kupang. Sampai! Tidak pernah sebelumnya saya sebersyukur ini ketika sampai di satu tempat. Sauna berjam-jam berakhir sudah.

Jam menunjukan pukul 1 dini hari ketika kami menginjak tanah Pulau Timor. Hello again Kupang.

Jalan-jalan di Larantuka

21 April
Seringkali planless alias tidak punya itenerary di banyak kota, aktivitas seringkali kami lakukan secara spontan. Seperti siang barusan, setelah makan siang kami ketemu angkot, main naik aja. Mengetahui kalau kami pendatang (yang sedang mati gaya), Bang Sudi, sang supir, berbaik hati menawari kami jalan-jalan putar Kota Larantuka setelah ngantar penumpang ke tujuannya masing-masing. Oleh Bang Sudi kami diajak ke Bukit Doa Fatima. Sebuah Rumah Doa yang dibangun di ketinggian dengan pemandangan Kota Larantuka ke bawahnya.

Berikutnya kami diajak ke tempat hiburan yang sepertinya lagi ngehits di Larantuka; Taman Air Panas Oka, sebuah sumber air panas di tepi laut dengan pemandangan yang keren.

Rumput nampak tumbuh di pasir pantainya, mungkin karena mineral yang dikandung dalam air panasnya.

Terkenal dengan perayaan Semana Santanya, siapa sangka Larantuka menyimpan keindahan alam yang patut dikunjungi.

Pulangnya, Bang Sudi mampir dan ngobrol-ngobrol di truk. Thank you Bang, semoga segera nikah😀

Jumat Agung 2019 – Larantuka

19 April


Setiap tahun, sekitar satu minggu menjelang perayaan paskah, umat Katolik di Larantuka melaksanakan tradisi Semana Santa, yang telah berlangsung lebih dari lima abad, sejak bangsa Portugis menyebarkan agama Katolik dan berdagang cendana di Kepulauan Nusa Tenggara.

Semana Santa berasal dari kata semana (pekan) dan santa (suci), yang artinya pekan suci yang dimulai dari Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga Perayaan Minggu Paskah.

Kami sedang bersiap-siap hendak menuju katedral ketika empat orang polisi datang diantar seorang suster dari keuskupan. Abah sudah menemui suster ini tadi pagi dan beliau sudah memberikan ijin untuk parkir. Lalu kenapa tiba-tiba kami didatangi polisi? Keadaan menjadi canggung karena salah satu bapak berseragam ini datang dengan wajah yang tidak bersahabat. Lalu Abah dan Ambu secara bergantian menerangkan siapa dan maksud tujuan kedatangan kami di Larantuka. Rupanya sebagai petugas pengamanan yang bertanggungjawab atas kelangsungan dan keamanan acara, ini adalah bagian dari tugas mereka. Pak Polisi paham dan sempat foto-foto dulu sebelum pamit. Lain kali kalo cuman mau nanya-nanya doang, nggak usah pasang muka angker duluan ya Pak😉.

Sebetulnya bukan sekali ini saja kami berurusan dengan polisi. Sudah berkali-kali kami dicegat polisi di jalanan, ditanyai bahkan ditilang😁. Tapi memang baru sekali ini kami didatangi polisi dengan wajah garang ketika sedang parkir😆.

Seorang peziarah, Denis, yang juga menginap di Wisma Saron penginapan milik keuskupan, menawari kami untuk pergi ke katedral bersama-sama. Denis adalah orang asli Ruteng dan baru pertama kali juga menghadiri acara ini. Kami jadi seperti punya guide, terimakasih ya.

Kami berjalan kaki menyusuri jalanan yang sudah ditutup untuk kendaraan, menuju katedral. Di kiri dan kanan jalan rute prosesi Jumat Agung ini sudah terpasang semacam pagar bambu tempat memasang lilin. Pemasangan pagar bambu ini dilaksanakan pada upacara Tikam Turo pada hari Senin sebelumnya.

Tiba di Katedral, kami mendaftar dan membayar biaya administrasi sebesar Rp 5000,- per orang. Kami lalu diberi tanda pengenal bertuliskan ‘Peziarah’ untuk dipasang di dada.

Setelah mendapat tanda pengenal, kami jadi merasa lebih ‘tenang’ mengikuti jalannya prosesi. Maklum, walaupun kebanyakan peziarah ramah dan welcoming, kadang ada juga pandangan keheranan demi melihat kami yang muslim ini beredar di area yang umumnya dipadati umat Katolik.

Dari katedral kami lalu turun ke arah pelabuhan dan menyusuri jalanan di tepi laut. Bertemulah kami dengan kapel pertama, Kapel Tuan Ana (Yesus). Saya tadinya agak ragu untuk masuk, tapi beberapa petugas yang berjaga di halaman kapel mempersilahkan kami masuk. Akhirnya setelah melepas alas kaki, saya dan Sabiya masuk. Di dalam kapel, dekat altar terdapat sebuah peti yang berisi patung Yesus, jemaat yang masuk kemudian berbaris mengantri sambil berlutut. Tiba di depan peti, mereka mengucapkan doa kemudian mencium peti tersebut.

Tidak jauh dari kapel Tuan Ana, terdapat kapel yang lebih besar, Kapel Tuan Ma. Di Kapel Tuan Ma, patung Bunda Maria yang telah dimeteraikan dalam sebuah peti mati selama satu tahun penuh, harus dibuka dengan penuh hati-hati oleh petugas Conferia (sebuah badan organisasi dalam gereja) yang telah diangkat melalui sumpah. Tampak antrian panjang di halaman Kapel. Untuk memberi kesempatan pada jemaat, kami memilih tidak masuk kapel kali ini.
Menurut legenda, Patung Tuan Ma ditemukan oleh seorang laki-laki di Pantai Larantuka sekitar 500 tahun yang lampau, sebelum agama Katolik masuk ke Flores. Patung ini berasal dari kapal Portugis yang karam di perairan sekitar Larantuka. Ia kemudian menyerahkan patung tersebut kepada Raja Larantuka. Oleh Raja, patung tsb ditempatkan di dalam rumah ibadah masyarakat Larantuka saat itu.
Prosesi diawali dengan arak-arakan perahu serta puluhan bahkan ratusan kapal motor untuk mengantar Tuan Menino (Patung Yesus) dari Kapela Tuan Menino (Kota Sau) ke Kapela Pohon Sirih di Pante Kuce, depan istana raja Larantuka.

Prosesi berlangsung terus hingga esok dini hari. Patung-patung diarak ke dan dari Katedral dari siang hingga malam hari. Suasana syahdu dan khusu’ ketika Patung Tuan Ma keluar dari katedral diiringi nyala lilin yang dipegang peziarah. Kata Sabiya, “Setiap orang yang hadir, hadir secara spiritual, bukan hanya sekedar datang dan menyaksikan”.

sumber info : tirto.id

‘Ngebut’ ke Larantuka

18 April

Gunung Inerie berlatar langit pagi ini jadi pemandangan si jendela kami pagi ini. Pak Agus(tinus), kepala Balai Pemantau Gunung Inerie berbaik hati mengijinkan kami parkir di halamannya.

Udara sejuk Bajawa membuat mager, pagi bergerak agak lamban.

Mbak Wida, Mas Iqbal serta anak-anaknya datang dan berkunjung lagi pagi ini untuk salam perpisahan serta membawa oleh-oleh kue, terimakasiiih 🙏.

Kami memang tidak banyak singgah di Flores ini. Semua area wisatanya sudah pernah kami kunjungi di kunjungan pertama (2015) dan kedua (2017). Kebetulan menjelang Paskah, kami ingin menyaksikan Puncak Perayaan Semana Santa atau Jumat Agung di Larantuka. Dan baru pagi itu kami tau kalau acara puncak bukan di hari Ahadnya, melainkan di hari Jumat, alias besok! Gimana sih Ambuu (sebagai planner perjalanan), namanya aja Jumat Agung la yaa😩😒😆😁.

Target ke Larantuka yang tadinya dua hari dimampatkan menjadi satu hari. Maka konsekuensinya adalah Abah bakal nyetir lebih lama dari biasanya. Belum lagi informasi dari Christian bahwa jalan menuju Larantuka akan ditutup mulai pukul 7 malam ini. Hadeuuh…😩😅.

Tapi secara kendaraan kami besar dan lambat, ya nggak bisa ngebut juga. Belum lagi jalanan yang berkelok-kelok naik turun. Yo wis sesampainya aja. Kalau Allah menakdirkan kami kami sampai tepat waktu, alhamdulilah, jika tidak ya tidak apa-apa. Kami makan siang sate kambing di Ende. Ketika hendak sholat, ketemu dengan Bang Ryan, subscriber Keluarga Kusmajadi 😁.

Kami baru sampai di Maumere sekitar jam 7 malam dan sempat ketemu sama Christian dulu.

Dari Maumere perjalanan masih 3-4 jam lagi. Anak-anak membongkar sofa dan membuatnya menjadi kasur. Ambu duduk di depan menemani Abah… untuk beberapa belas menit pertama aja😆. Di sisa perjalanan menuju Larantuka Ambu sukses tertidur, maaf ya Abah😅.

Kami tiba di Larantuka Jumat dini hari, sekitar jam 1 malam. Sehingga total lama perjalanan 17 jam! Jalan utama menuju Katedral sudah ditutup. Kami lalu minta ijin parkir di Keuskupan Larantuka.